Teknik Budidaya Cabe Rawit Agar Berbuah Lebat.

Cabe rawit adalah salah satu tanaman semusim yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Rasa buahnya yang pedas menjadikan cabe rawit banyak dicari orang. Hal ini dikarenakan cabe rawit merupakan peran utama pada kebanyakan kuliner asli Indonesia. Apalagi bagi orang Sunda tidak sempurna rasanya kalau makan tanpa ditemani sambal yang pedas. Cabe rawit akan tumbuh baik jika ditanam di dataran rendah mulai nol sampai 500 meter dari permukaan laut, meskipun demikian di dataran tinggi pun tanaman ini bisa dibudidayakan tapi hasilnya kurang maksimal.
   Tahapan budidaya cabe rawit.
1. Pengolahan tanah.
   Pengolahan tanah harus dilakukan agar cabe rawit bisa tumbuh sempurna dan bisa menghasilkan buah yang sangat lebat. Lakukanlah pengolahan tanah dengan menggunakan garpu, kemudian haluskan dengan cangkul. Buatlah bedengan dengan ukuran 120 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai dengan keadaan lahan. Ukuran parit jangan terlalu kecil, minimal ukuran parit 40 cm agar memudahkan dalam pemeliharaan. Taburkan kapur dolomit sebanyak 200 gram dari setiap 1 meter panjang bedengan jika PH tanah kurang dari 4,5. Taburkan kembali pupuk kandang sebanyak 1 kg kali jumlah tanaman dalam satu bedengan. Misalnya, jika panjang bedengan yang digunakan 10 meter dan jarak dalam barisan 50 cm, maka pada bedengan tersebut akan terdapat 40 tanaman cabe rawit., Berarti pada bedengan tersebut harus ditaburkan minimal 40 kg pupuk kandang. Taburkan lagi pupUK buatan urea 160 gr,TSP 160 gr dan KCL 80gr, lalu aduk bedengan tersebut sampai rata kemudian rapikan kembali. Siram bedengan sampai rata lalu tutup dengan mulsa plastik perak hitam, kalau tidak ada bisa diganti dengan daun bambu yang sudah lapuk. Diamkan bedengan minimal selama 2 minggu sebelum bibit cabe rawit dipindahkan.
2. Pembibitan.
   Sebelum benih ditanam rendam dulu selama 1 jam, agar benih bisa tumbuh seragam. Siapkan media tanam campuran, tanah,pupuk kandang dan arang sekam dengan perbandingan 1 : 1: 1. Masukkan media tanam ke dalam gelas plastik bekas kemasan air mineral yang terlebih dulu dilubangi bagian bawahnya. Masukkan satu butir biji cabe rawit di setiap polybag dengan kedalaman 1 cm dan tutup lagi dengan tanah. Untuk menghindari terik matahari dan hujan naungi tempat pembibitan dengan menghadap ke timur. Siram bibit setiap pagi dan sore hari menggunakan hand sprayer dan hindari penyiraman menggunakan gembor agar bibit tidak rusak. Pada hari ketujuh bibit akan mulai tumbuh, dan lakukan pemupukan selang waktu 3 hari sekali dengan cara disemprotkan. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk asam amino dengan dosis 1 ml perliter air. Usahakan pupuk asam amino yang digunakan hasil produksi sendiri supaya bisa menekan biaya produksi. Pada usia 30 sampai 45 hari bibit siap dipindahkan.
3. Penanaman.
   Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang tanam 25 cm dari sisi bedengan. Tanam bibit cabe rawit yang sehat dan paling bagus pertumbuhannya, lalu siram dengan air yang telah dicampur pupuk asam amino 3 ml per liter air. Waktu penanaman yang paling baik dilakukan pada sore hari agar bibit tidak mengalami dehidrasi.
4. Pemangkasan.   Salah satu kunci lebatnya buah cabe rawit adalah pemangkasan tunas. Dengan pemangkasan tunas akan tumbuh tunas-tunas baru yang lebih banyak, biasanya tunas baru yang tumbuh bisa mencapai 4 sampai 7 tunas.. lakukan pemangkasan tunas ketika tanaman cabe rawit sudah mencapai ketinggian 20 cm.
5. Pemupukan.
   Pemupukan dilakukan selang waktu 7 hari sekali dengan cara dikocor. Pupuk yang digunakan yaitu satu gelas pupuk NPK, atau juga bisa diganti dengan dua gelas pupuk asam amino buatan sendiri, yang masing-masing dilarutkan dengan 10 liter air. Dosis yang digunakan satu gelas larutan pupuk pada setiap tanaman disiramkan pada tanah di sekitar tanaman. Selain dengan cara dikocor lakukan pula pemupukan melalui penyemprotan menggunakan pupuk asam amino buatan sendiri dengan dosis 2 ML per liter air agar pertumbuhan tanaman lebih maksimal.
6. Proteksi tanaman.
   Proteksi tanaman harus dilakukan secara rutin agar tanaman cabe rawit terhindar dari serangan hama dan penyakit. Hama yang biasa menyerang cabe rawit diantaranya: ulat grayak, lalat buah, tungau,trips,kutu daun apis,kutu daun persik dan kutu daun kebul. Ulat grayak atau yang disebut juga ulet tentara biasanya menyerang pada malam hari secara bergerombol dengan cara memakan semua daun cabe rawit sampai habis, sehingga mengakibatkan kerusakan yang sangat fatal. Sedangkan lalat buah menyerang dengan cara memasukkan telur-telurnya ke dalam buah cabe rawit hingga buah membusuk dan jatuh. Kutu kebul adalah vektor penyebab penyakit keriting kuning, sedangkan tungau, apis dan trips sebagai pembawa vektor penyebab penyakit keriting daun yang disebabkan oleh virus. Ulat grayak, trips, tungau, kutu putih dan kutu daun bisa ditanggulangi dengan menyemprotkan air rendaman tembakau secara rutin. Sedangkan untuk menanggulangi lalat buah bisa dilakukan dengan cara membuat pancingan campuran cincangan buah semangka dan insektisida yang dimasukkan ke dalam botol yang dilubangi sisi-sisinya, sehingga nantinya lalat buah akan masuk ke dalam botol dan mati.
7. Pemanenan.
   Cabe rawit bisa mulai dipanen pada usia 120 hari. Pemanenan dilakukan dengan cara mengambil buah dan tangkainya, teknik budidaya cabe rawit seperti ini dan pupuk yang digunakan pupuk asam amino buatan sendiri bisa meningkatkan hasil produksi mencapai 4 kali lipat..

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai